Dimana kah Posisi Torres?
Fernando Torres sudah resmi bergabung dengan Chelsea. Sekarang pertanyaan lanjutannya adalah, di mana ia akan masuk dalam skuad yang sudah penuh dengan penyerang kelas dunia ini?
Yang pasti, kehadir
an Torres membuat Carlo Ancelotti memiliki pilihan. Sebuah pilihan yang bisa jadi idaman setiap pelatih klub manapun. Namun jika salah memanfaatkan pilihan ini, maka semuanya bisa berubah menjadi mimpi buruk.
Datang dengan harga 50 Juta Pound, Torres jelas akan jadi pilihan utama di lini depan. Posisi yang sudah dihuni nama-nama semacam Didier Drogba dan Nicolas Anelka. Terutama dengan keberadaan Drogba yang selalu jadi pilihan utama selama ini, Ancelotti harus berusaha untuk memaksimalkan potensi besar serangan yang ia miliki di dalam skuadnya. Ada beberapa formasi yang bisa ia pilih untuk melakukannya.
Formasi 4-4-2 akan jadi sebuah pilihan yang menggiurkan. Meletakkan duet Torres dan Drogba di lini depan akan jadi ancaman utama bagi klub-klub lain. Di sayap, mereka akan didukung oleh Florent Malouda di sisi kiri dan Michael Essien atau Ramires di kanan (keduanya bukan sayap murni). Droga pernah menulis di otobiografinya ia menikmati bermain dengan Andriy Shevchenko di depan karena itu membagi beban yang dimilikinya. Sedangkan Torres, kita biasa melihatnya berduet dengan sangat baik dengan David Villa di timnas Spanyol. Saat melawan Chelsea di Anfield November silam, ia juga mampu tampil gemilang saat berduet dengan Dirk Kuyt di depan.
Tidak jauh berbeda, Ancelotti juga bisa kembali mencoba memainkan formasi diamond yang ia gunakan saat awal-awal berada di Inggris dulu. Malouda dan Ramires akan berada di posisi yang lebih melebar, sementara Frank Lampard akan berada di belakang duet Drogba-Torres. Namun masalah yang muncul, potensi Lamps terlihat tenggelam saat formasi ini dimainkan. Ia tidak bisa tampil semaksimal biasanya. Ini menjadi harga yang cukup mahal.
Satu kemungkinan
yang paling besar adalah, Ancelotti tetap mempertahankan sistem yang berjalan sangat baik untuknya selama ini. Sekaligus juga menghindari terjebak untuk mengganti formasi normalnya demi satu orang nama besar –seperti yang sempat harus dilakukan Jose Mourinho dengan kedatangan Shevchenko tahun 2006 silam. Orang italia ini memang sempat menyatakan keengganannya untuk megubahformasi yang sudah biasa ia gunakan, ini artinya: 4-3-3. Torres akan dijadikan ujung tombak di tengah, bersama Maluda di kiri dan Drogba lebih melebar di kanan. Ini mungkin mengorbankan insting pembunuh Drogba sedikit, tapi akan lebih menguntungkan jika dilihat dari sisi mempertahankan ritme tim secara keseluruhan.
Orang Pantai Gading ini sudah sempat bermain sedikit melebar di musim ini, kemungkinan besar hasil dari Malaria yang menyerap banyak energinya dan mencegahnya meledak-ledak seperti biasa. Ini juga menjelaskan jumlah gol yang dicetaknya jauh lebih sedikit jika dibandingkan musim lalu. Ia sering bermain lebih di dalam dan lebih melebar musim ini, dan dengan kedangan Torres, ia bisa saling bertukar tempat dengannya. Ini akan memastikan akan ada satu striker berinsting pembunuh tetap berada di dalam kotak penalti. Sangat berbahaya. Dari berbagai formasi ini, yang jadi korban sepertinya tetap Nicolas Anelka, yang, kecuali jika form Malouda mendadak semakin memburuk, harus rela berperan lebih di Liga Champions dan Piala FA –dua kompetisi yang Torres tidak bisa ikut bermain.
Formasi mana yang akan dipilih oleh Ancelotti? Mampukah ia memanfaatkan potensi luar biasa yang dimiliki oleh pemain mahal barunya ini? Atau Torres akan menghadapi sebuah kesulitan baru di Stamford Bridge? Kita nantikan saja.



